Jakarta – PT PLN (Persero) akan mengonversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang bergantung pada BBM. PLTD akan dikonversi menjadi pembangkit yang berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT). Proses tender tengah dilakukan untuk menggaet investor.
Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Wiluyo Kusdwiharto menjelaskan dalam Program Dedieselisasi Tahap I ini PLN akan menerapkan konsep tender baru sehingga dapat mengoptimalisasi proyek tersebut.

Konsep pertama adalah klastering atau pembagian lokasi. Program Dedieselisasi Tahap I ini akan dibagi menjadi 8 klaster, dengan jumlah PLTD yang dikonversi sebesar 14 sampai 55 megawatt di setiap klaster.
“Klasterisasi ini akan meningkatkan ukuran proyek dan juga nilai ekonomi proyek sehingga menjadi menarik bagi investor yang akan berpartisipasi,” katanya dalam webinar,

Selanjutnya, konsep kedua adalah mengakomodasi pertumbuhan permintaan melalui skema modular incremental development dengan menambah kapasitas secara bertahap
“Konsep ketiga adalah membuka teknologi yang digunakan dalam proyek ini, untuk memberikan lebih banyak ruang pada inovasi dan persaingan teknologi untuk mendapatkan foto voltage dan baterai yang paling efisien, andal, dan kompetitif di pasar,” sambungnya.

PLN, lanjut Wiluyo telah meluncurkan pengadaan dedieselisasi dan sudah mengundang semua pengembang yang terdaftar dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) PLN untuk mengikuti lelang.
Pengadaan pada Program Dedieselisasi Tahap I ini akan dilakukan dalam beberapa batch, di mana setiap batch terdiri dari beberapa klaster. Setiap klaster memiliki Request for Proposal (RFP) yang terpisah yang terdiri dari beberapa lokasi.

Dia menjelaskan PLN mulai mengembangkan Program Dedieselisasi sejak pertengahan 2020 dengan memulai memetakan dan melakukan analisa geospasial pada November 2020. Setelah itu PLN juga melakukan studi detail untuk mengoptimalisasi permintaan, sumber daya, dan biaya pada proyek tersebut.

“PLN juga sudah membuka pendaftaran DPT untuk Program Dedieselisasi sejak akhir tahun 2020. Artinya cukup waktu bagi para investor untuk mengikuti program ini dan pada tanggal 1 Maret 2022 yang lalu kami sudah mengumumkan pembukaan lelang dedieselisasi untuk klaster Jawa Madura dan Kalimantan I,” paparnya.
Dia menjelaskan bahwa hari ini melakukan aanwijzing, yakni pertemuan dengan semua peserta tender yang lolos dalam seleksi tender.
Hari ini setelah acara ini kami akan melakukan aanwijzing bagi seluruh peserta yang mengambil dokumen lelang, dan akan terus berlanjut di mana perkiraan tanda tangan PPA akan dilakukan pada Oktober 2022 untuk klaster Jawa Madura dan Kalimantan I,” tambah Wiluyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *