PASURUAN, Radar Bromo – Ada pemandangan berbeda di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pasuruan dan Probolinggo. Selasa (5/4) di sejumlah SPBU terlihat ada antrean kendaraan yang hendak membeli solar. Banyaknya antrean bahkan membuat antrean sampai mengular ke jalan.

Antrean itu jelas merugikan mereka yang butuh solar untuk sehari-hari. Mereka terutama sopir truk mengaku, harus mengeluarkan ongkos lebih. Karena sudah pasti perjalanan jadi lebih panjang dan biaya membengkak.

Di Kota Pasuruan misalnya. Antrean itu terlihat di SPBU Jalan Ahmad Yani di Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Di SPBU ini bukan hanya kendaraan besar seperti truk. Tapi juga warga yang membawa jeriken. Rata-rata mereka antre Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bio solar.

Antrean cukup panjang. Warga yang antre bahkan sampai harus berteduh di samping keran pengisian. Mereka meletakan jeriken yang dibawa untuk membeli. Kira-kira panjang antreannya kurang lebih mencapai 7 sampai 8 meteran.

Mereka yang mengantre datang sejak pagi. Bahkan ada yang sampai menginap. Seperti Muhammad Zubaedi, 35, warga Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton. Ia rela datang menunggu dua hari untuk mendapatkan pasokan dari pertamina tersebut.

Menurutnya, ia datang Senin lalu bersama beberapa orang temannya. Namun, hingga Selasa (5/4) pukul 12.00 itu ia masih belum mendapatkan solar incarannya.
Sebagai nelayan, kata Zubaedi, solar subsidi sudah menjadi barang yang mendukung kehidupannya. Sebab jika tidak ada solar, maka tidak akan mencari ikan.

Tak jauh berbeda dialami Mujib, 41, warga Kalirejo, Kraton. Ia sudah keliling beberapa hari ini mencari bio solar. Mulai dari Rejoso, Raci, Bangil dan kembali lagi ke SPBU Karangketug.

“Kalau mau dianaikkan (harganya, Red) monggo. Tapi jangan barangnya nggak ada. Kalau seperti ini kan kami yang kesulitan,” tuturnya.

Supriyanto pengawas SPBU Karangketug mengatakan, memang beberapa hari terakhir ada keterlambatan pengiriman solar. Padagal sebelumnya setiap hari dikirim dan tiba sesuai dengan waktunya.

“Beberapa kali telat minta pagi datang siang. Kalau ini telah melewati hari. Seharusnya dikirim kemarin, baru sekarang dikirim,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, di SPBU tempatnya, sekali kirim mendapatkan jatah sebanyak 16 ribu liter. Nah kemarin itu stoknya memang sudah kosong. Ia tidak mengetahui alasan pengiriman yang telah tersebut. “Tidak tahu sebabnya apa. Yang pasti ini kami tunggu katanya hari ini dikirim,” jelasnya.

Pantauan di lokasi, antrean itu juga bukan hanya nelayan. Tetapi ada supir truk dan juga pedagang solar eceran kepada nelayan. Baik laki-laki dan perempuan juga menunggu kedatangan truk tangko pertamina yang membawa solar.

Kelangkaan solar di sejumlah SPBU juga memicu antrean di SPBU Triwung Kidul di Kelurahan Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, kemarin. Kelangkaan ini terjadi disebutkan karena adanya permintaan solar yang cukup tinggi dan proses distribusi yang memakan waktu cukup lama menuju SPBU.

Antrean yang terjadi di SPBU Triwung cukup panjang. Hingga sekitar 200 meter hingga dekat pintu keluar Terminal Bayuangga Kota Probolinggo sejak pukul 09.00. Kondisi ini membuat arus lalu lintas padat merayap mulai dari terminal sampai SPBU karena banyak nya kendaraan yang mengantre.

Salah seorang sopir truk gandeng asal Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Faizul mengungkapkan, kelangkaan solar terjadi sejak di Surabaya. Berulang kali saat ia memasuki SPBU di Surabaya dan Pasuruan, solar dalam kondisi kosong. Ia baru menemukan solar di SPBU Triwung Kidul. Namun ia sempat harus antre sejak pukul 09.00.

Ia sangat menyesalkan kelangkaan solar tersebut. Karena kondisi ini, ia pun harus kehilangan penghasilan yang tidak sedikit. Pasalnya proses pengangkutan barang ke lokasi tujuan yang sejatinya bisa ditempuh dua hari, kini menjadi tiga hari. Pihaknya berharap agar kondisi ini cepat berlalu. Sehingga ia pun bisa lebih tenang saat bekerja.

“Ini saya mau ke Jember untuk mengantarkan besi. Harusnya malam ini (Selasa, Red) sudah sampai. Cuma akibat antrean, terpaksa saya istirahat dulu di daerah Jorongan, Leces karena sudah malam. Tidak mungkin saya paksakan,” ungkapnya saat mengisi bahan bakar truk nya.

Kondisi serupa juga dialami oleh Iwan, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan. Ia sebenarnya hendak menuju Lumajang. Namun antrean yang panjang sejak pagi membuat dirinya baru bisa mengisi bahan bakar untuk truk fusonya menjelang magrib. Karena dinilai sudah kemalaman, tentunya ia juga akan istirahat di sekitar Jorongan.

“Sejak pagi antre, ini baru bisa mengisi bahan bakar. Ya otomatis rugi. Harusnya kan sudah tiba di Lumajang. Tapi karena ada kelangkaan ini, ya otomatis saya tunda. Sudah malam soalnya,” jelasnya.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *