Jakarta – Upaya Malaysia mengklaim warisan budaya Indonesia kembali menjadi sorotan. Kali ini Menko PMK Muhadjir Effendy menggalang dukungan masyarakat agar warisan budaya Indonesia tak dicuri negara lain.
Muhadjir mengatakan Reog Ponorogo telah menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia. Dia mengupayakan Reog tercatat di Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO).

Kabar Reog hendak diklaim Malaysia awalnya ramai diberitakan akhir 2007. Situs Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Budaya Malaysia memasang gambar reog. Hal ini memicu reaksi dari masyarakat Indonesia.

Muhadjir menyebut Malaysia juga berencana mengusulkan Reog ke UNESCO. Dia meminta agar pemerintah Ponorogo secepatnya mengusulkan Reog Ponorogo ke UNESCO dan mempersiapkan data yang diperlukan.

“Untuk Reog, Negara Malaysia rencananya mau ajukan juga, maka dari itu kita harus lebih dulu. Karena ini kan sudah menjadi budaya dan warisan kita,” ujar Muhadjir dalam keterangan tertulis yang dikutip, Selasa (5/4/2022).

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan dan Prestasi Olahraga Didik Suhardi, mengatakan berkas pengusulan dan kelengkapan Reog telah diterima oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek melalui Direktorat Pelindungan Kebudayaan serta telah diajukan kepada Sekretariat ICH UNESCO pada 31 Maret 2022. Reog diusulkan beserta nominasi lainnya, yaitu Tempe, Jamu, Tenun Indonesia dan Kolintang.

13 Warisan Budaya Lain Hendak Diklaim Malaysia
Upaya Malaysia mengklaim warisan budaya Indonesia sudah terjadi berkali-kali. Setidaknya, selain reog, tercatat ada 12 warisan budaya lain yang hendak diklaim Malaysia.

Warisan budaya tersebut berupa tarian, lagu, makanan, alat musik, pakaian, olahraga, hingga alat kesenian.

Berikut daftarnya:

1. Pencak Silat
UNESCO secara resmi menetapkan pencak silat dari Indonesia sebagai warisan budaya tak benda. Penetapan tersebut dilakukan saat sidang ke-14 Intergovernmental Commitee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Bogota, Kolombia, Kamis (12/12/2019).

Sidang tersebut sepakat menetapkan bahwa pencak silat masuk ke dalam UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Direktur Jenderal Kebudayaaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid menyampaikan bahwa proses penetapan pencak silat sebagai warisan tak benda sejatinya cukup panjang, 2 tahun sejak diusulkan pada 2017 silam. Sebelum ditetapkan, usulan tersebut menjalani proses seperti pemeriksaan oleh komite, tim ahli sampai kemudian ditetapkan sebagai warisan tak benda UNESCO pada Kamis (12/12).

Selain Pencak Silat dari Indonesia, sidang UNESCO juga menetapkan sekitar 15 usulan warisan tak benda dari negara lain termasuk Silat dari Malaysia. Hal ini mendapat sorotan dari netizen di media sosial karena persoalan “saling klaim” satu sama lain.

2. Wayang Kulit
Desainer Malaysia, Jaemy Choong, pernah menjadi sorotan karena dianggap mengklaim wayang kulit.

Klaim tersebut lalu sempat diaplikasikan ke motif sepatu Adidas. Warganet Indonesia murka dan menggeruduk akun Instagram Singapura. Pihak Adidas Singapura lalu minta maaf.

Malaysia kembali dituduh mencontek budaya Indonesia karena Miss Grand Malaysia memakai kostum wayang kulit. Miss Grand Malaysia 2019 Mel Dequanne Abar memakai kostum nasional bertema wayang kulit untuk berlaga di ajang Miss Grand International yang digelar di Venezuela.

3. Lagu Rasa Sayange
Malaysia juga pernah mengklaim lagu Rasa Sayang Sayange milik mereka. Menurut Ketua Partai Oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, klaim sejumlah lagu rakyat Indonesia oleh Malaysia merupakan bentuk arogansi Pemerintah Malaysia.

Ramainya klaim oleh Malaysia sempat membuat masyarakat Indonesia protes hingga membuat plesetan Visit Malaysia menjadi Visit Malingsia.

“Saya pribadi juga sebenarnya kesal, tapi di sini posisi saya adalah sebagai pemimpin. Jadi harus bisa bersikap tenang dan berpikir jernih, tidak terbawa emosi,” kata Menteri Kebudayaan dan Parawisata, Jero Wacik, saat jumpa pers Akhir Tahun 2007

4. Tari Pendet
Pada tahun 2007 juga, Menbudpar Jero Wacik juga mengirim surat protes khusus terkait pemunculan tari pendet dalam video promosi Malaysia. Tayangan itu muncul di channel Discovery Channel.

Pihak Kepariwisataan Malaysia mengklaim tak terlibat dalam proses produksi video promosi tersebut. Untuk menebus kesalahan, Discovery Channel lalu membuat tayangan khusus soal tari pendet selama 30 menit.

5. Rendang
Rendang juga pernah diklaim Malaysia. Masyarakat Malaysia sempat mengklaim masakan daging asal Sumatera Barat (Sumbar) yang dimasak menggunakan bumbu rempah dan santan kelapa kental.

6. Tari Piring
Tari Piring juga pernah diklaim Malaysia. Tari ini merupakan salah satu seni tari tradisional masyarakat Minangkabau yang berasal dari Kota Solok, Provinsi Sumatera Barat.

7. Tari Tor-tor
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI pernah mengirimkan nota diplomatik ke pemerintah Malaysia mengenai tari Tor-tor. Indonesia meminta Malaysia juga mencatatkan asal usul tari Tor-tor, yakni Indonesia.

“Boleh dicatatkan bahwa itu budaya yang berkembang di Malaysia, tapi Malaysia harus menjelaskan secara tertulis bahwa asal-usulnya dari Indonesia,” jelas Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional, Linggawaty Hakim di Bali, Selasa (26/6/2012).

8. Angklung
Dalam situs www.musicmall_asia.com disebutkan bahwa angklung berasal dari Malaysia tepatnya berada di kota Johor. Musik angklung merupakan pengiring kesenian kuda kepang. Tak ayal, hal in mendapat kecaman dari masyarakat Indonesia.

9. Batik
Masyarakat Indonesia juga sempat berang karena batik hendak diklaim pihak Malaysia. Sempat muncul tuduhan Malaysia hendak mengklaim batik sebagai miliknya.

10. Lunpia/Lumpia Semarang
Puluhan aktivis Semarang melakukan aksi unjuk rasa di Kedutaan Besar Malaysia, Jakarta, Jumat (20/2/2015). Dalam aksinya mereka membawa lumpia sebagai bentuk protes karena diklaim sebagai produk Malaysia.

11. Alat Musik Godang Sambilan
Media Bernama.com pernah memberitakan Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Datuk Seri Dr Rais Yatim mengatakan tarian Tor-tor dan alat musik Godang Sambilan akan didaftarkan dalam Seksyen 67 sebagai Akta Warisan Kebangsaan 2005.

12. Beras Adan
Pada Januari 2012, Dirjen Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) mengeluarkan sertifikat hak paten atas Beras Adan Krayan. Sebelum keluarnya hak paten ini, Malaysia memasarkan beras organik tersebut dengan merek Bario Rice yaitu beras dari Bario, Serawak, Malaysia.

Padahal, beras Adan merupakan beras yang diproduksi oleh petani di wilayah Krayan, Nunukan, Kalimantan Timur. Wilayah Krayan berada pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Di wilayah lembah yang dikelilingi hutan lindung dan sejumlah gunung, beras diolah secara organik dengan memanfaatkan kotoran kerbau sebagai input pemupukan. Cita rasa beras Adan Krayan tidak bisa ditemukan di wilayah lain dan menjadi satu keunikan tersendiri.

13. Kuda Lumping
Pada 2017, finalis Miss Grand International dari Malaysia yaitu Sanjeda John, memakai kostum kuda lumping. Kostum tersebut dipakainya untuk berkompetisi di sesi kostum busana nasional Miss Grand International 2017.

Sejumlah seniman kuda lumping beraksi saat car free day di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (21/12/2014). Kegiatan ini dilakukan dalam rangka menggalang dana sumbangan dari pengunjung Car Free Day untuk korban longsor Banjarnegara. (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Pada foto yang viral itu, Sanjeda tampak memakai atasan cokelat dengan bagian perut terbuka. Dia juga memakai boots setinggi lutut. Penampilan seksinya ini ditutupinya dengan kuda lumping berukuran besar yang dipegangnya di depan perutnya.

Melalui Instagram resmi Miss Grand Malaysia pun memberikan klarifikasinya terhadap tudingan mencontek kostum kuda lumping yang memang identik dengan kesenian daerah dari Indonesia itu.

Pihak Miss Grand Malaysia menjelaskan bahwa kostum kuda lumping yang disebut mereka sebagai kuda warisan itu terinspirasi dari masyarakat Jawa yang tinggal di kawasan Selatan wilayah Johor, Malaysia. Orang Jawa yang bermigrasi ke Malaysia pada awal abad 20 lah yang membawa dan memperkenalkan tarian kuda lumping tersebut.

Hingga akhirnya pada 1971, Kementerian Pariwisata Johor mengakui tarian Kuda Kepang tersebut sebagai bagian dari masyarakat Jawa di Johor. Tarian itu juga simbol pesatuan dan keberagaman budaya untuk masyarakat Johor.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *