Surabaya – Sejumlah Seniman Reog di Jawa Timur kesal dan kecewa. Pemerintah tak segera menuntaskan berkas pendaftaran agar Reog segera diakui warisan tak benda atau intangible cultural heritage (ICH) oleh UNESCO. Sementara, Malaysia kembali berulah, berancang-ancang mendaftarkan Reog sebagai warisan budaya tak benda dari Negeri Jiran.

Kabar yang membuat kesal para seniman itu bermula dari Menko PMK Muhadjir Effendy yang menyebutkan bahwa Pemerintah Malaysia berencana mengajukan kesenian Reog sebagai kebudayaan negaranya ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Padahal, kesenian Reog Ponorogo sendiri sudah mengakar di Indonesia dan sudah diusulkan sebagai warisan budaya tak benda sejak 2013 silam. Selama kurun waktu 4 tahun berjalan itulah pemerintah berupaya melengkapi dan menyempurnakan persyaratan untuk diusulkan ke UNESCO. Tapi pada 2022 ini Kemendikbudristek justru lebih memilih mengusulkan jamu.

Salah satu Seniman Reog Ponorogo Sudirman termasuk yang kesal dan kecewa. Terutama karena Kemendikbudristek justru memilih jamu ketimbang Reog Ponorogo untuk diajukan ke intangible cultural heritage (ICH) UNESCO atau sebagai warisan budaya tak benda pada 2022. Soal Malysia, dia mengaku tidak terlalu khawatir.

“Saya tidak khawatir karena dunia sudah tahu kalau Reog asalnya Ponorogo. Anggota paguyuban Reog Ponorogo (Parogo) tersebar di Makau, Hongkong, Singapura, Malaysia, US, Belanda. Nah, kalau ada Reog di Malaysia dan diklaim, itu karena negara melalui pemerintahnya peduli. Kalau di sini kami orang Ponorogo mengajukan ditolak, kok. Malah jamu dimenangkan dan diakui,” kata Dirman, Sabtu (9/4/2022).

Untuk menyampaikan kekecewaan itu, selama dua malam berturut-turut para pegiat Reog Ponorogo menggelar pentas di depan Paseban Alun-Alun Ponorogo sebagai bentuk protes. Senada dengan Sudirman Pegiat Reog Ponorogo lainnya Yosika (27) mengaku jika reog tak masuk ke ICH UNESCO tahun ini dia tak masalah. Dia yakin Reog Ponorogo bakal tetap jaya dan para pemainnya akan tetap tampil dimana pun mereka berada.

“Yang menjadi khawatir kalau Reog Ponorogo diklaim (negara lain), kalau tidak masuk UNESCO suatu saat (mereka/Malaysia) pasti akan berjuang terus supaya masuk ke ICH UNESCO,” kata Yosika.

Pada kesempatan yang sama pegiat lain yang biasa memerankan Jathil Oding Galuh Maharani (23) mengatakan bahwa generasi yang mencintai dan melestarikan Reog Ponorogo tetap ada di mana pun dan sampai kapan pun.

“Rakyat Ponorogo dan seniman Reog Ponorogo tetap melestarikannya walaupun di era pandemi maupun di era apa pun. Untuk kegiatannya biasa tetap ada latihan dan tampil seperti biasanya,” kata Maharani.

Tidak hanya di Ponorogo, kekecewaan tentang upaya klaim Malaysia terhadap Reog Ponorogo memantik amarah Seniman Reog di Surabaya. Penerus keempat Paguyuban Singo Mangku Joyo di kawasan Kertajaya Yoyok Setiono salah satunya.

Emosi Yoyok sempat tersulut ketika mendengar klaim Malaysia yang ingin mendaftarkan kesenian reog ke UNESCO. Yoyok lantas mempertanyakan mengapa pemerintah tidak secepatnya mengumpulkan data dan mendaftarkannya ke UNESCO sejak dulu supaya reog bisa diakui dunia seperti batik?

“Kenapa pas dulu pernah diklaim juga kok tidak segera didaftarkan atau bagaimana? Nah ini jadi ramai lagi,” kata Yoyok.

Pria berusia 40 tahun tersebut mempertanyakan sejarah reog versi Malaysia. Ia yakin, Malaysia tak dapat membuktikannya karena Reog memang bukan berasal dari sana. “Kalau mereka mengeklaim (Reog Ponorogo), mulai kapan adanya? Sedangkan di Indonesia kan sudah lama, di Ponorogo ada napak tilasnya,” ujarnya.

Seniman ramai-ramai meminta pemerintah pusat tidak tinggal diam dengan langkah Malaysia. Salah seorang seniman reog Hadi Purnomo menegaskan, mereka ingin Presiden Jokowi turun gelanggang. Menurutnya Pemkab Ponorogo telah melengkapi dokumen pendukung ke pusat tinggal bagaimana pemerintah pusat mengambil peran tegas agar Reog Ponorogo menjadi milik Indonesia.

“Kekayaan asli Ponorogo, asal usul Reog Ponorogo jadi harus asli Ponorogo. Saya mohon Presiden Jokowi beserta menteri-menteri harus segera memasukkan Reog ke ICH-UNESCO,” tegasnya. Dia melanjutkan, pendaftaran Reog Ponorogo sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO bersifat mendesak. Para seniman tak ingin reog jatuh ke tangan Malaysia.

“Yang mengajukan reog harus Indonesia. Saya rasa kalau sampai keduluan Malaysia, masyarakat Ponorogo, bahkan masyarakat Indonesia akan menyesal. Ini waktu yang tepat mendaftarkan reog ke UNESCO,” lanjutnya.

Dukungan kepada seniman reog datang dari Bupati Ponorogo Sugiri Suncoko. Menurut Sugiri, reog adalah usulan rakyat kecil. Sudah sejak dulu kesenian tersebut sudah ada. Kebudayaan adiluhung milik Indonesia terutama Ponorogo.

“Reog ini bisa punah kalau tidak tampil, ada perajin, ekonomi bergerak. Bagaimana bisa mas menteri memilih jamu dan tidak mengupayakan nasionalisme kita, Reog,” kata Sugiri kepada wartawan di Paseban, Ponorogo, Jumat (8/4/2022) lalu.

Pihaknya mendesak agar pemerintah kembali mendorong agar Reog yang diusulkan ke ICH UNESCO. “Saya sebagai bupati Ponorogo mendorong kebijaksanaan pemerintah. Reog ini karya adi luhung. Biar Reog masuk ke ICH UNESCO,” tambah Giri.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga memastikan bahwa pihaknya terus mengikuti proses pendaftaran Reog Ponorogo ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Khofifah bahkan telah membahasnya secara langsung dengan Menko PMK Muhadjir Effendy.

“Beberapa waktu yang lalu kami mengikuti perjuangan Reog Ponorogo yang sedang diperjuangkan ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Tadi Pak Menko PMK Pak Muhajir menelpon saya membahas reog,” tegas Khofifah kepada wartawan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

Khofifah mengakui sudah tahu bahwa Malaysia juga turut mendaftarkan Reog ke Unesco sebagai warisan mereka. Menurut Khofifah, saat ini proses pendaftaran Reog Ponorogo sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia masih menunggu melengkapi bukti sejarah.

Khofifah berharap seluruh pihak saat ini berjuang keras agar Reog Ponorogo terdaftar sebagai warisan budaya tak benda di UNESCO. Jangan sampai, Reog Ponorogo lepas ke negara lain.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *