Jakarta – Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpidato soal hanya ada satu matahari di Partai Demokrat. Pengamat politik menyampaikan analisanya soal pidato SBY tersebut.

Peneliti politik dari lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio menerka pidato SBY itu bukan soal Moeldoko. Diketahui, Moeldoko sempat membuat gadung Partai Demokrat usai terpilih menjadi Ketum PD versi Munaslub di Sumatera Utara. Munaslub tersebut dianggap ilegal.

“Bukan (soal) Moeldoko. Itu sudah selesai,” kata Hensat, panggilan akrab Hendri saat dihubungi, Minggu, (17/4/2022).

Pidato SBY merupakan cerminan dari Partai Demokrat yang sedang berbenah. Demokrat pernah berjaya dengan berhasil mengantarkan SBY dua kali menang pemilihan presiden.

“Demokrat itu besar pada pas Pak SBY menjadi Ketum ya. Dan pada Mas AHY menjadi Ketum, Partai Demokrat kali ini sedang proses pendewasaan diri kembali,” katanya.

Hendri menduga ada gesekan di internal partai demokrat. Seperti membandingkan antara SBY dengan AHY.

“Makanya Pak SBY, memang negarawan, punya leadership yang baik sekali, mengingatkan bahwa saat ini era-nya Ketua Umum sekarang, yaitu Ketua Umum AHY,” ujarnya.

“Saya menduga, selama ini ada internal-internal kader PD yang sering berkeluh kesah kepada SBY soal masalah Demokrat sekarang. Makanya, Pak SBY mengatakan, matahari ada satu. Makanya nggak perlu berkeluh kesah ke dia. Berkeluh kesah sekalian ke Ketum,” katanya.

Meredam Gejolak Internal Demokrat

Sementara itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno melihat pernyataan SBY itu untuk meredam gejolak internal Demokrat. SBY menurut Adi, sudah lama tidak muncul ke publik,

“Selema ini SBY sudah lama puasa bicara politik. Jika sekelas SBY turun gunung pasti ada yang krusial di internal Demokrat,” kata Adi dihubungi terpisah.

Khususnya, pascapenetapan ketua-ketua DPD yang beberapa daerah tidak menerimanya. Sehingga, masalah ini perlu diselesaikan.

“Sepertinya pernyataan SBY untuk meredam gejolak internal demokrat, terutama terkait pemilihan Ketua DPD Demokrat di sejumlah daerah yang dinilai kontroversial, ” kata Adi.

“Ada calon sudah terpilih melalui mekanisme Demokrasi di musda tapi AHY menunjuk calon lain untuk jadi ketua. Wajar kalau ada gejolak internal. Setidaknya itu yang terekam di media,” ucapnya.

Persoalan itu disebut bukanlah jadi hal sepele. Akan berpengaruh di Pemilu 2024 jika tidak segera diselesaikan.

“Bisa jadi kerikil tajam, jika bukan batu sandungan, menyongsong 2024 yang akan datang. DPD biasanya jadi ujung tombak di bawah yang head to head langsung dengan rakyat, ” katanya.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *