Sukabumi – Palu hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bandung mengganjar hukuman mati bagi terdakwa kasus pemerkosaan 10 anak perempuan yang masih di bawah umur. Jauh sebelum putusan hakim, ada keluarga korban dan berbagai pihak yang memperjuangkan kasus tersebut.

Kasus pemerkosaan itu terungkap pada Juni 2021. Namun aksi bejat Abah Heni ternyata sudah dilakukannya sejak 2017 lalu.

“Masyarakat sangat sedih dengaan kejadian ini karena ini kejadiannya udah lama cuman dilaporkannya baru tahun kemarin. Terungkapnya tahun kemarin sebenarnya kejadiannya dari 2017,” kata Kepala Desa Caringin Wetan Dedi Suhendar, Kamis (28/4/2022).

Awal kasus itu bermula dari laporan keluarga korban ke kantor Desa. Dedi ingat betul, satu per satu keluarga berdatangan dan mengadukan tindakan Abah Heni terhadap para korban.

“Akhirnya musyawarah dan semua korban dipanggil, waktu itu baru lah pihak korban berani mengatakan ini-ini. Asalnya nggak ada yang berani, kemudian ada satu ibu yang berani istilahnya mengungkapkan masalah itu jadi semua korban berani,” ujarnya.

Tentu saja, terdakwa tak langsung mengakui. Saat itu, di depan para keluarga korban ia menyangkal melakukan tindakan asusila tersebut.

“Asalnya mengelak Abah Heni dan akhirnya ada pengakuan, masyarakat sampai emosi. Saya juga namanya jangan main hakim sendiri saya hubungi Babin (bintara pembina) dan diamankan Babin,” imbuhnya.

Dalam dokumen putusan Pengadilan Negeri (PN) Cibadak, Sukabumi yang diunggah di website Mahkamah Agung (MA) terungkap aneka modus yang dilakukan oleh terdakwa. Mulai dari mencarikan kutu, mengajak jalan-jalan hingga memberi uang dan mengancam untuk tidak memberitahu siapapun.

Sementara itu, kondisi korban sempat mengalami trauma. Apalagi korban masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Mereka kehilangan kepercayaan dirinya.

“Bahkan ada yang terpukul anaknya, ada yang minder sampai kemarin saya datang ke sekolah jangan sampai ada olok-olok atau bully-an dari teman-temannya saya titip ke gurunya, karena istilahnya trauma healing lah anaknya,” tuturnya.

“Saya mendampingi supaya mental si anaknya jangan sampai terganggu. Alhamdulillah dari berbagai pihak supaya anak itu semangat pagi belajarnya, waktu saya menghadiri sidang di PN Cibadak kayanya anak dia ngomong seadanya. Sekarang udah berani, kalau kemarin-kemarin takut,” sambung Dedi.

Mendengar Abah Heni atau yang lebih dikenal sebagai Bos Cilok mendapatkan vonis mati, Dedi mewakili pihak keluarga merasa senang dan menilai ini hukuman yang adil.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *