Jakarta – Mantan Direktur Badan Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama menilai masih terlalu dini memprediksi kasus infeksi hepatitis misterius bakal menjadi pandemi secara global.

Tjandra menambahkan, saat ini status hepatitis misterius masih menjadi penyakit yang masuk kategori Disease Outbreak News (DONs) atau Kejadian Luar Biasa (KLB) yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) per 15 April lalu. Pengklasifikasian status penyakit menurutnya merupakan hal lumrah, apalagi penyakit ini masih misterius.

“Penempatan penyakit tertentu di dalam ‘DONs’ justru maksudnya agar dunia mengetahui informasi awal dan menjadi perhatian bersama, belum tentu berarti akan menjadi wabah luas dunia [pandemi] atau tidak,” kata Tjandra, Senin (9/5).

Tjandra melanjutkan, sepanjang April 2022 terdapat 10 penyakit ‘DONs’ WHO. Di antaranya yakni hepatitis akut dengan laporan pertama 15 April di Inggris dan Irlandia serta 23 April di berbagai negara.

Kemudian penyakit Ebola di Kongo, Japanese encephalitis di Australia, Salmoneum thypimurium di berbagai negara, Kolera di Malawi, Malaria di Somalia, Demam Kuning di Uganda, VDPV (vaccine derived polio virus) tipe 3 di Israel dan MERS CoV di Saudi Arabia.

“Jadi ada banyak, bukan hanya Hepatitis,” kata dia.

Kendati demikian, Tjandra meminta seluruh pihak untuk waspada dan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) guna mencegah penularan penyakit hepatitis akut yang masih misterius ini. Ia sekaligus meminta masyarakat tidak terlalu panik dengan penempatan penyakit tertentu oleh WHO.

Tjandra juga mewanti-wanti pemerintah untuk mengambil langkah antisipasi dan mitigasi yang dilakukan sembari menunggu kajian-kajian ilmiah dan bukti ilmiah yang akan tersedia dalam beberapa waktu mendatang.

“Tegasnya, kita jelas perlu waspada tetapi tidak perlu juga menjadi panik tidak beralasan,” ujar Tjandra.

Dokter Spesialis Anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Hanifah Oswari sebelumnya menyebut ada kemungkinan kasus infeksi hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya alias hepatitis misterius bakal menjadi pandemi secara global.

Namun demikian, Hanifah mengingatkan kemungkinan itu masih kecil mengingat saat ini kasus hepatitis misterius masih relatif terkendali di sejumlah negara.

Hanifah melanjutkan, saat ini pemerintah dan IDAI terus melakukan identifikasi terhadap penyebab hepatitis misterius ini. Ia mengatakan, butuh waktu 1-2 pekan untuk mengetahui hasil pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan adenovirus dan hepatitis E.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *