Jakarta – Harga gas di Amerika Serikat (AS) melesat naik menjadi US$4,328 per galon atau setara Rp62.863 (asumsi kurs Rp14.524 per dolar AS).
Padahal, saat ini harga minyak mentah dunia terpantau turun. Tak tanggung-tanggung, penurunan harga minyak tembus 6,1 persen menjadi US$103,09 per barel.

Sebelumnya, harga tertinggi gas dipatok US$4,331 pada 11 Maret 2022 lalu. Kini, harga gas kembali mendekati angka tersebut.

Dalam sepekan harga gas sudah naik US$0,13 dari harga awal US$4,07 per galon. Kenaikan ini dipicu oleh invasi Rusia terhadap Ukraina yang membuat harga komoditas energi dunia melambung, Selasa (10/5)

Bahkan, sebelum perang Ukraina harga gas per galon dibanderol US$3,335 pada 23 Februari, kini harga sudah melonjak 23 persen lebih tinggi daripada angka tersebut.

Direktur Utama Lipow Oil Associates Andy Lipow memperkirakan harga gas berpotensi naik lagi dalam 10 sampai 14 hari ke depan menjadi US$4,50, memecahkan rekor tertinggi sebelumnya, yakni US$4,331.

Di sisi lain, minyak yang menjadi penentu bagi harga gas, diketahui turun di hari yang sama gas beranjak naik. Harga minyak mencatat penurunan terbesar sejak akhir Maret.

Ahli menyebut beberapa faktor yang berkontribusi pada penurunan harga minyak, termasuk aksi jual cepat di Wall Street, kekhawatiran tentang penguncian wilayah akibat lonjakan kasus covid-19 di China yang mengurangi permintaan dan kurangnya kemajuan dalam upaya Eropa untuk menghapus impor minyak Rusia.

“Harga minyak baru saja tersapu dalam aksi jual cepat dan tajam di seluruh aset berisiko,” kata Analis Minyak Utama Kpler Amerika Matt Smith.

Tak hanya itu, inflasi turut menjadi pemicu dengan The Fed berusaha mengendalikannya dengan menaikkan suku bunga sampai 0,5 persen.

Namun, diperkirakan harga minyak akan tetap tinggi imbas dari perang Rusia-Ukraina terus membayangi pasar energi.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *