Jakarta – Asosiasi Otomotif China memperkirakan penjualan mobil di Negeri Tirai Bambu itu turun 48 persen pada April dibanding periode sama tahun lalu.
Penurunan penjualan itu disebabkan kebijakan penutupan pabrik, pembatasan lalu lintas ke ruang pameran dan pengereman pengeluaran untuk membuat zero Covid-19 di negara tersebut.

Perkiraan anjlok 48 persen itu merupakan yang terparah sejak Februari 2020 menjelang awal pandemi yang kala itu hancur 79 persen dari bulan sama 2019.

Dilansir US News, Asosiasi Penjualan Mobil China menyebut penjualan mobil dalam empat bulan pertama tahun ini bisa turun 12,3 persen dari tahun sebelumnya.

Penurunan tajam penjualan itu dianggap sebagai tanda dampak penanganan China buat mengontrol wabah Covid-19 yang kembali merebak di Shanghai dan kota-kota lain dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan penjualan retail, penjualan keseluruhan juga diperkirakan lebih rendah dari sebelumnya pada tiga minggu pertama April.

Asosiasi Mobil Penumpang China memperkirakan distribusi retail mobil penumpang di China berjalan 39 persen lebih rendah dalam tiga minggu pertama April dari tahun sebelumnya.

Ruang pameran, toko, dan mal di Shanghai ditutup selama sebulan dan 25 juta penduduknya tidak dapat berbelanja online selain makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Analis di Nomura mengestimasikan pada pertengahan April bahwa 45 kota, yang mewakili 40 persen GDP China, sedang lockdown, dengan potensi resesi yang semakin besar.

Sebuah survei oleh asosiasi dealer mobil China menunjukkan bahwa showroom di 34 kota telah ditutup lebih dari seminggu atas dasar tindakan pengendalian Covid-19 pada April.

Sebelum lockdown, penjualan kendaraan listrik di Shanghai sedang booming. Penjualan Tesla di China melonjak 56 persen pada kuartal pertama, sementara penjualan untuk kendaraan listrik dari saingannya yang lebih besar di China, BYD, telah meningkat empat kali lipat.

Awal pekan ini, menurut data tiga produsen kendaraan listrik paling terkemuka di China melaporkan penjualan turun tajam. Xpeng Inc, NIO Inc dan Li Auto Inc jatuh masing-masing 41,6 persen, 49 persen dan 62 persen di April versus Maret.

Produsen otomotif terbesar di China, SAIC Motor, yang bermitra dengan Volkswagen dan General Motors, melaporkan penurunan 60 persen dalam penjualan April.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *