Makassar – Kasus pria Muhammad Arfandi Ardiansyah (18) tewas usai ditangkap polisi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) kian berbuntut panjang. Sebanyak delapan polisi narkoba ditahan Propam Polda Sulsel untuk dimintai keterangan.
Propam belum menjelaskan status dari delapan polisi yang ditahan tersebut. Propam disebut masih mendalami keterangan mereka.

“(8 Polisi narkoba) sementara diamankan di Propam,” ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Komang Suartana, Rabu (18/5/2022).

Propam tak hanya sekadar menahan delapan polisi tersebut. Ponsel masing-masing dari mereka juga disita.

“Sementara handphone-handphone mereka dicek sama Pak Kabid Propam. Nggak ada (yang akan diperiksa),” jelasnya.

Kendati demikian Propam belum mengungkapkan status dari delapan polisi yang ditahan. Alasan penahanan juga belum dijelaskan.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa delapan oknum aparat itu telah dinonaktifkan untuk sementara waktu. Namun dipastikan fungsi delapan polisi itu masih di satuan narkoba Polrestabes Makassar.

Sebelumnya, Propam Polda Sulsel sudah mengungkapkan bahwa memang ada delapan polisi yang diusut terkait tewasnya korban. Salah satu di antaranya merupakan perwira polisi.

“Ada tujuh anggota (diperiksa). Ada (satu orang perwira yang diperiksa),” kata Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Agoeng Adi Koerniawan di Polrestabes Makassar, Senin (16/5).

Dari total delapan polisi yang diperiksa, satu di antaranya merupakan seorang polisi wanita (Polwan). Namun Polwan tersebut diperiksa hanya sebagai saksi.

Di tengah proses penyelidikan Propam, ayah korban bernama Mukram meyakini putranya korban pembunuhan. Kecurigaan itu sekaligus membantah korban terlibat narkoba sebagaimana tudingan awal polisi.

“Tidak ada itu terlibat kasus narkoba. (Saya lihat jenazah Arfandi) dari muka masih ada darah keluar sampai di tangan, kaki, bokong, belakang kepala. We,h dibunuh anakku dan kami mengamuk dan tak terima,” kata ayah Arfandi, Mukram (39), Selasa (17/5).

Mukram menduga luka yang dialami anaknya itu akibat benda tumpul. Dia menyebut kondisi anaknya saat itu mengalami patah di kedua tangannya, termasuk jari-jarinya.

Pihak keluarga almarhum bersama kuasa hukumnya telah melaporkan peristiwa ini ke Propam Polda Sulsel. Mukram menduga oknum polisi melakukan pelanggaran kode etik dan pidana.

“Saya juga sudah laporkan kode etik dan pidananya. Kalaupun nantinya ada pemecatan (oknum polisi), kami mau hadiri, Pak,” pintanya

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *