Kota Mojokerto – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan momen kritis kecelakaan Bus Ardiansyah di Tol Mojokerto. Momen itu terjadi di rest area KM 627A Saradan, Madiun. Kernet bus, Ade Firmansyah (29) berinisiatif mengemudikan bus sungkan membangunkan sopir yang tertidur pulas. Padahal, ia sendiri kelelahan.

Ketua Sub Komite LLAJ Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan mengatakan, pihaknya telah mendapat temuan sangat penting dalam investigasi kecelakaan maut di KM 721.400A Tol Sumo. Yakni kondisi kelelahan yang dialami kernet bus Ade Firmansyah (29), warga Sememi, Kelurahan Benowo, Pakal, Surabaya.

Bus pariwisata ini mengangkut 32 penumpang warga RW 1 Kelurahan Benowo, Pakal, Surabaya. Awak bus hanya dua orang. Sopir bus yakni Ahmad Ari Ardiyanto (31) warga Desa Boteng, Menganti, Gresik dan Ade sebagai kernet bus.

Mereka bertolak dari Surabaya pada Sabtu (14/5) sekitar pukul 20.00 WIB dengan tujuan Dieng, Wonosobo dan Malioboro, Yogyakarta. Rombongan warga Benowo, Surabaya itu bertolak dari Malioboro, Yogyakarta pada Minggu (15/5/2022) sekitar pukul 24.00 WIB.

Perjalanan wisata rutin setiap habis Hari Raya Idul Fitri ini ditempuh tanpa menginap sama sekali. Sehingga para penumpang maupun awak bus dalam kondisi yang lelah. Begitu pula yang dialami Ade.

“Selama di kendaraan dia (Ade) duduk di depan di kursi kecil. Kalau pun dia tidur hanya tidur-tidur ayam, tidak bisa lelap. Saat bus berhenti, saat istirahat, kewajiban kernet adalah menjaga bus, dia tidak ikut tidur. Pengemudinya kan tidur, dia menjaga bus dan barang-barang. Artinya, dia tidak efektif beristirahat,” kata Wildan di Mapolres Mojokerto Kota, Jalan Bhayangkara, Rabu (18/5/2022).

Dalam perjalanan kembali ke Surabaya, kata Wildan, rombongan mampir ke rest area KM 627A Saradan, Madiun untuk salat subuh. Saat itu, sopir yang juga kelelahan, tidur di bagasi belakang bus. Sopir tak kunjung bangun meski para penumpang sudah naik ke dalam bus. Ade pun berinisiatif mengemudikan bus pariwisata itu menuju Surabaya

“Melihat sopir lagi tidur dia merasa kasihan, sementara penumpang ingin berangkat. Dia mau membangunkan sopirnya tidak enak. Penjelasan dia, tidak ada yang memerintahkan. Hanya karena rasa persahabatan saja, inisiatif dia sendiri membawa (mengemudikan) bus,” jelasnya.

Wildan menuturkan, meski statusnya hanya kernet bus dan belum mempunyai SIM B1, Ade bisa mengemudikan bus sejak 2018. Ia menilai kompetensi Ade dalam mengemudikan bus tidak berpengaruh dalam kecelakaan ini. Kondisi Ade yang saat itu kelelahan menjadi faktor utama kecelakaan.

Sehingga beberapa menit menjelang kecelakaan di KM 712.400A pada Senin (16/5/2022) sekitar pukul 06.15 WIB, kata Wildan, Ade tertidur pulas setelah mengemudi sekitar 85 km.

Ia tidak sadar sama sekali saat bus yang ia kemudikan menyerempet pagar besi atau guard rail dan menabrak beton saluran air di bahu jalan hingga bannya pecah. Ade baru tersadar setelah bus menabrak fondasi dan tiang variable message sign (VMS) di bahu jalan Tol Sumo.

“Kalau micro sleep digedor saja bangun, dalam seper sekian detik bangun lagi, tidur sesaat kalau micro sleep. Kalau ini deep sleep. Karena hampir dua menit dia (tertidur). Kemudian karena dia menyerempet guard rail sampai menabrak batu besar sampai bannya robek tadi saya tanya tidak terasa dia. Artinya, dia benar-benar pulas (tidurnya),” tandasnya.

Bus Ardiansyah nopol S 7322 UW yang dikemudikan kernet bus, Ade Firmansyah (29), warga Sememi, Kelurahan Benowo, Pakal, Surabaya melaju dari barat ke timur atau dari arah Jombang ke Surabaya. Sampai di KM 712.400A Tol Sumo pada Senin (16/5) sekitar pukul 06.15 WIB, bus mendadak oleng ke kiri karena Ade tertidur.

Akibatnya, bus berpenumpang 32 orang itu menabrak besi pembatas jalan tol, lalu menabrak fondasi tiang VMS. Kerasnya benturan membuat bagian depan sisi kiri bus ini hancur. Bus juga terguling ke kanan di lajur kiri jalan tol. Sedangkan tiang VMS ambruk beserta fondasinya.

Kecelakaan tunggal ini mengakibatkan 14 penumpang tewas. Selain itu, 18 penumpang dan kernet bus terluka. Sedangkan sopir bus, Ahmad Ari Ardiyanto (31), warga Desa Boteng, Menganti Gresik, selamat. Maka, total ada 34 orang di dalam bus nahas tersebut.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *