Jakarta – China adalah salah satu negara yang jor-joran mengembangkan fusi nuklir. Teknologi yang kerap disebut sebagai Matahari buatan ini digadang-gadang dapat menyediakan sumber energi yang hampir tak terbatas dan minim limbah.
Sejatinya, proyek ini bukan pengganti Matahari alami. Hanya saja, teknologi ini memiliki besaran panas seperti Matahari sungguhan. Proyek yang berlokasi di Provinsi Sichuan Barat Daya, China ini, berhasil menyala untuk pertama kalinya pada Desember 2020

1. Penamaan Matahari buatan
Penyebutan proyek ini sebagai Matahari buatan karena cara kerjanya sama seperti Matahari dan bintang, yakni menggunakan fusi hidrogen sehingga bisa menciptakan panas. Dengan cara tersebut, energi yang diciptakan diklaim bisa lebih bersih dan aman daripada reaktor nuklir biasa. Adapun nama resmi dari proyek ini adalah Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST).

2. Panasnya 10 kali lipat inti Matahari
Matahari buatan China bekerja dari hasil reaksi nuklir dengan menggunakan magnet yang dipadukan plasma panas. Hasilnya, suhu yang diciptakan bisa mencapai 15 juta derajat Celcius atau 10 kali lipat lebih panas dari inti Matahari.

3. Cara kerja
Reaktor EAST bekerja dengan menggabungkan dua inti hidrogen. Ketika unsur kimia itu bergabung, akan tercipta energi panas luar biasa. Proses ini dikenal dengan fusi nuklir yang berbeda dengan reaktor nuklir biasa yang menerapkan fisi (pembelahan) inti atom.

Ilmuwan percaya, suhu yang sangat panas tersebut baru suhu minimal yang dibutuhkan jika mereka berniat untuk menciptakan reaktor nuklir mandiri. Dengan kata lain, masih ada tahapan berikutnya yang harus dilakukan tim ilmuwan untuk mewujudkan sumber energi mutakhir yang mereka inginkan.

China menggunakan struktur penyangga magnet superkonduktor dengan berat 20 ton yang dirakit di Prancis untuk mewujudkan proyek ini. Tantangan terbesar reaktor EAST adalah mempertahankan suhu panas luar biasa dalam waktu lama untuk bisa menciptakan sumber energi secara praktis.

4. Kerja sama berbagai negara
Matahari buatan EAST adalah proyek besar yang melibatkan para ilmuwan dari 35 negara yang bertujuan untuk sumber energi baru menggunakan fusi nuklir.

Untuk dapat mewujudkan proyek ini, China bekerja sama dengan sejumlah negara antara lain Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia, Jepang, India, dan Korsel. Fusi nuklir yang dapat dimanfaatkan dengan menggunakan metode energi rendah, memungkinkan terciptanya energi bersih yang tidak terbatas.

Jika berhasil, China akan dapat memberikan bantuan besar untuk pengembangan fasilitas serupa di Prancis bernama International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER). Eksperimen ini juga berlangsung dengan bantuan konsorsium dunia dengan Uni Eropa, AS, Rusia, dan bahkan China ikut menjadi anggotanya. Mereka berharap untuk membuat terobosan pada paruh kedua abad ini.

5. Beroperasi 2050
Rencananya, Matahari made in China selesai dikembangkan sekitar tahun 2035, dengan output daya puncak hingga 2 gigawatt. Tim pengembangan proyek ini menargetkan agar Matahari buatan bisa digunakan secara komersial pada 2050.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *