MAKASSAR – Penggerebekan markas Batalyon 120 Makassar hingga ditemukan 164 busur panah, 38 botol miras, serta 4 parang di dalamnya menyisakan sorotan kepada dua tokoh. Keduanya adalah Wali Kota Makassar Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto dan Kapolrestabes Makassar Kombes Budi Haryanto.

Kombes Budi Haryanto lantas membantah kabar Kanit Reskrim Iptu Faisal dicopot karena penggerebekan Batalyon 120. Dia mengaku heran dengan beredarnya kabar itu.

Budi membenarkan Iptu Faizal dicopot dari jabatannya selaku Kanit Reskrim Polsek Tallo, Makassar. Namun dia menegaskan pencopotan itu karena masalah lain.

Budi mengaku menerima laporan Kanit Reskrim Iptu Faisal beberapa kali melakukan hal-hal yang tidak pantas dalam hal penanganan perkara. Menurut Budi, Iptu Faizal juga mempersulit proses hukum antara pelapor dan terlapor yang sudah bersepakat damai.

“Ada perkara yang sudah damai antara pelapor dan terlapor dan harusnya bisa diterapkan RJ namun Kanit tersebut mempersulit,” ujarnya. (Senin (12/9))

Sementara itu, Danny Pomanto menjelaskan alasan Batalyon 120 bisa menguasai 164 busur panah, 38 botol miras hingga 4 parang saat digerebek polisi akhir pekan lalu. Danny mengaku busur panah tersebut sebenarnya akan diserahkan ke kepolisian pada awal pekan ini, namun telanjur digerebek.

“Menurut ketuanya, insyaallah Senin ini mestinya sudah diserahkan itu senjata yang dianggap digerebek itu karena ini seharusnya sudah penyerahan yang keenam,” ujar Danny kepada detikSulsel, Senin (12/9).

Danny awalnya menyinggung tujuan Pemkot Makassar membentuk Batalyon 120 pada Maret 2020 lalu. Menurutnya, pembentukan Batalyon 120 bermula dari maraknya kasus busur panah dan perang kelompok di wilayah Makassar dan pihaknya berusaha mencari solusi.

Danny mengatakan para kelompok kriminal jalanan pada dasarnya ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat juga secara sosial. Oleh sebab itulah Batalyon 120 dibentuk untuk mewadahi keinginan tersebut.

Oleh sebab itu, kata Danny, pengurus Batalyon 120 itu akan merekrut para kriminal jalanan agar bisa lebih baik. Salah satu syaratnya adalah para kriminal itu mesti menyita senjata tajam sehingga akan diserahkan ke pihak kepolisian secara berkala.

“Cara perekrutannya mereka diajak bicara. Bentuk paling nyatanya adalah mengumpulkan senjata mereka. Jadi setiap periodikal, kita kumpulkan lalu diserahkan ke polisi dan sebelumnya mereka sudah 5 kali menyerahkan,” kata Danny.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *