Surabaya, – Di tangan dua Mahasiswa asal Surabaya, limbah kaca di Pantai dan Limbah Masker berubah menjadi barang berdaya guna. Dua Inovasi ini merupakan karya Tugas Akhir (TA) dalam wisuda ke-82 UK Petra yang merupakan hasil dari Outcome Based Education-Leadership Enchancement Program (OBE-LEAP) UK Petra jenis Research and Innovation yang sejalan dengan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Mereka adalah Athalia Michelle Sutawijaya yang baru saja di wisuda oleh kampusnya. Ia mengolah limbah kaca di pantai sedangkan Olivia Tantiono yang yang baru saja di wisuda, mengolah limbah masker.

Athalia Michelle Sutawijaya yang Lulus dengan predikat cumlaude mengangkat TA bertajuk Perancangan Inovasi Bisnis Sela Jewelry sebagai Perhiasan Berbahan Seaglass di Bali.

“Saya sangat terdorong memanfaatkan limbah kaca untuk menjadi produk yang bernilai lebih bahkan bisa menjadi tambahan penghasilan. Sekaligus saya ingin mengurangi limbah yang ada di pantai,” Kata Athalia.

Seaglass sendiri merupakan limbah serpihan kaca yang sudah dihaluskan secara alami oleh air, ombak, dan pasir. Jadi, saat ada serpihan kaca terendam dalam air asin dan terombang-ambing karena pasir dan ombak selama sekitar 5 – 50 tahun, ujung dan sudut serpihan kaca yang tajam pun jadi halus.

Awalnya pemilik IPK 3,57 itu mencari bahan bakunya di pantai berkarang atau berbatu, kemudian dirapikan bentuknya ke tukang batu. Baru diproses menjadi sebuah perhiasan yang cantik.

“Saya mendesainnya seaglass ini menggunakan copperwire yang menghasilkan tiga produk yaitu kalung, gelang dan cincin dengan brand bernama Sela Jewelry,” jelasnya.

Brand Sela Jewelry dengan desain yang simple dan mengikuti trend ini telah berjalan dan dipasarkan secara online yaitu di Shoppe dan Intagram. Usaha yang dimulainya sejak sekitar bulan April 2022 ini telah berhasil menjual sebanyak 17 kalung, 10 gelang dan 14 cincin.

Sementara itu Olivia Tantiono yang berhasil menyukai limbah masker berubah menjadi barang berdaya guna, mengatakan efek lain dari Pandemi Covid-19 ini salah satunya meningkatnya penggunaan masker sekali pakai di Indonesia bahkan di dunia. Dilansir dari The Independent (12/3/2021), berdasarkan data rata-rata penggunaan masker oleh manusia sekitar 2,8 juta masker permenit.

“Data itulah yang semakin menguatkan niat saya untuk mengelola sampah masker minimal yang ada di rumah ataupun lingkungan tempat tinggal saya. Yang saya gunakan bukan termasuk kategori limbah masker di Fasyankes. Akan tetapi masker yang masuk kategori limbah domestik.”, kata Olivia Tantiono yang berhasil meraih predikat cumlaude dalam wisuda ke-83 UK Petra.

Olivia menghasilkan karya berupa stool (tempat duduk multifungsi yang bisa menjadi meja) dan lampu dari masker bekas tersebut. Sebelum menjadi barang yang berdaya guna, Olivia harus melalui serangkaian proses. Bahkan untuk menjaga keselamatan diri, Olivia melakukan observasi dengan mengikuti pelatihan pengelolaan sampah dan daur ulang masker bekas secara online.

Gadis pemilik IPK 3,67 itu merinci, awalnya ia mengumpulkan masker bekas pakai dari keluarga, teman dan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Kemudian ia mencuci masker bekas tersebut sesuai dengan arahan dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia terkait pedoman Kelola limbah masker masyarakat menggunakan cairan desinfektan.
Baru kemudian dijemur dibawah sinar matahari hingga kering, setelah itu dapat diolah kembali. Sampah masker ini bisa menjadi sangat indah jika terkena cahaya.

“Saya sudah mencoba berbagai metode, kurang lebih 20 kali. Tetapi pada akhirnya untuk memperoleh hasil maksimal maka saya menggunakan teknik press heat dan material komposit lem serta serbuk masker,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *