Surabaya, – Pusat Studi Bencana dan Lingkungan (PSBL) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) bekerjasama dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kab. Lamongan menggelar Seminar Tematik Kebencanaan dengan tema “Strategi Penguatan Inovasi & Kapasitas Kebijakan Penanggulangan Bencana di Daerah”.

“Ini kegiatan yang menarik dan bisa dipastikan ilmunya sangat memberi manfaat positif bagi pemkab. Jadi ikuti dengan hikmat, mengingat para narasumber yang hadir merupakan pakar yang kompeten di bidang kebencanaan dan ekonomi kreatif,” ungkap Mugito, Asisten III Pemerintah Kabupaten Lamongan, saat memberikan sambutan, Rabu (28/09/2022).

Sementara itu dalam sambutannya, Rektor Unitomo, Siti Marwiyah mengatakan kegiatan yang dilaksanakan sebagai bentuk implementasi kerja sama antara Unitomo dengan Pemerintah Kabupaten Lamongan.

“Sebagaimana pembicaraan awal dengan bapak Bupati, untuk berkomitmen agar kerja sama yang terjalin jangan sampai menjadi ceremonial di awal. Melalui kegiatan ini, mari bersama-sama bersinergi demi peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas,” ujar Siti Marwiyah.

Siti Marwiyah menambahkan, sinergitas yang dilakukan kali ini memberikan strategi menguatkan inovasi dan kapasitas kebijakan penanggulangan bencana di Lamongan.

“Ini menjadi penting, mengingat mau tidak mau kalau kita harus hidup berdampingan dengan bencana. Hal ini tidak bisa dipungkiri, dan jangan takut secara berlebih, karena melalui strategi-strategi penanggulangan akan mewujudkan masyarakat tangguh bencana,” imbuhnya.

Diikuti sekitar 200 dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Lamongan, kegiatan ini menghadirkan Hendro Wardhono, Ketua PSBL dan Priyanto, Ketua Pusat Studi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Pusparekraf) sebagai narasumber. Dalam paparannya, Hendro Wardhono mengatakan pemahaman terkait bencana sangat penting untuk menjadi perhatian bersama.

“Semua harus bekerjasama, dari segala lini untuk bisa berkolaborasi plus orkestrasi. Pelaksanaan hexahelix harus diterapkan, berbeda dengan pentahelix kalau ini ditambah dengan korban terdampak di lokasi. Mereka perlu diajak bicara, karena mereka bukan subjek,” jelas Hendro yang juga Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI).

Senada dengan Hendro, Priyanto mengatakan solusi bagi pariwisata dan ekonomi kreatif harus ada Standar Layak Operasi Bencana (SLOB).

“Memang wisata dengan bencana ini bisa dibilang musuh atau juga teman, karena ada beberapa daerah yang pernah terjadi bencana, justru di situ akan muncul potensi wisata. Misalnya di merapi, lumpur lapindo. Tujuan sebenarnya, kita harus menyamakan persepsi wisata aman bencana secara sistem,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *