Surabaya – Selama ini, kasus fungsi seksual pada pria sering dibahas. Namun jangan salah, perempuan juga perlu mendapat perhatian. Perempuan mempunyai hak sebagai subjek. Bukan hanya sekadar menjalankan fungsi seksual.

Di RS Ibu Anak (RSIA) Kendangsari Merr Surabaya, pasien perempuan dengan kasus vaginismus selama 10 bulan ada 50 orang. Pasien yang datang tidak hanya dari Surabaya, namun juga dari luar kota.

“Itu awal pertama kami meyakini fungsi seksual perempuan itu adalah sesuatu yang harus diselesaikan bersama-sama,” kata spesialis Kandungan dan Kebidanan RSIA Kendangsari Merr, Dr dr Eighty Mardiyan Kurniawan SpOG(K), Kamis (6/10/2022).

Dahulu mindsetnya “suami minta, sudah, selesai”. Tapi ternyata, di balik itu semua, sebelum perempuan orgasme, hingga kepuasan seksual, sampai merasakan intim dengan suami, itu merupakan perjalanan panjang.

“Mulai dari keluarnya hasrat atau keinginan untuk melakukan hubungan seksual, kemudian timbul atau arousal respons fisik akibat adanya hasrat dari rangsangan,” ujarnya.

Dalam WHO, sebut Eighty, gangguan fungsi seksual itu adalah gangguan yang sebenarnya meliputi banyak hal. Seperti psikologi, sosial, kultural dan lain-lain.

“Ada perempuan yang memang tidak memiliki hasrat seksual, ada yang hasratnya rendah. Ada gangguan disfungsi arousal, dia sudah berhasrat tapi tidak bisa klimaks, itu arousalnya terganggu dan harus dicari. Ketiga adalah ketidakmampuan sampai orgasme. Keempat gangguan pada pain nyeri ternyata banyak dialami perempuan,” tegasnya.

Ia menyarankan pasien melakukan pemeriksaan agar diagnosis tepat sehingga bisa melakukan pengobatan dengan tepat.

“Perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, terutama kepada pasien yang ada kaitannya dengan hormonal. Karena fungsi hormonal sangat mempengaruhi fungsi seksual, baik laki-laki maupun perempuan.” tambahnya.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *