Makassar – Mantan Kepala Distrik Paniai Timur Pius Gobay dihadirkan menjadi saksi dalam sidang kasus pelanggaran HAM berat di Paniai, Papua. Saksi mengungkap kasus pelanggaran HAM berat itu bermula dari penganiayaan sadis menggunakan senjata terhadap delapan anak remaja.

 

Sidang kasus pelanggaran HAM berat Paniai berlangsung di Ruang Bagir Manan, Pengadilan Negeri Makassar, Kamis (6/10/2022).

 

Dalam persidangan, saksi Pius Gobay mengungkap penganiayaan sadis terhadap delapan anak remaja itu terjadi di kawasan Pondok Natal Gunung Merah, Paniai Timur pada Minggu, 7 Desember 2014 silam. Saksi Pius Gobay mengaku menerima laporan penganiayaan itu dari anaknya sendiri, Mia Gobay atau Marselina Gobay.

 

“Pertama di TKP di sana yang waktu pemukulan. Ada 2 motor yang langsung datang dari bawah, gelap-gelap. Tidak pakai lampu,” ujar Pius Gobay di persidangan.

 

Pius Gobay mengatakan insiden pemukulan itu tepatnya terjadi sekitar pukul 20.00 WIT. Berdasarkan laporan dari anaknya Mia Gobay, para korban dianiaya dengan cara dipukul dan ditendang.

 

“Yang memukul itu, pada waktu itu dia ceritakan dari bawah ada 2 motor, mereka tidak pasang lampu (motor). Setelah itu ada motor datang pasukan dipukul dan ditendang. Menurut anak saya,” kata saksi.

 

“Saya bilang (bertanya ke anak saya) pendatang kah, orang asing?. Dia (anak saya Mia Gobay) bilang pendatang. Waktu itu pakaian preman. Semua bawa senjata dan (para korban) pakai senjata dipukul,” ujarnya.

 

Pius Gobay Lapor Polisi

 

Sebagai Kepala Distrik, Pius Gobay langsung mengantar para korban melapor ke polisi. Namun saat itu, Wakapolres Paniai Kompol Hanafi mengarahkan korban ke rumah sakit.

 

Menurut Pius Gobay, tidak ada permintaan keterangan kepada korban dari kepolisian waktu itu. Kompol Hanafi hanya meminta tiga dari total delapan korban dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka berat. Setelah itu Pius Gobay dan para anak remaja yang jadi korban pulang ke rumah.

 

“Jadi waktu itu kami dengan Waka (Wakapolres) ke rumah sakit saja. Saya dengan beliau, perintah dia saya (antar korban) ke rumah sakit berobat,” katanya.

 

“(Total korban) Anak muda sekitar 8. Semua dapat tendang. Yang ke rumah sakit hanya 3 orang. Benyamin, Julian, satu lagi anak saya kena. Tapi lukanya (anak saya cuma disuruh) ada ambil obat. Yang Julian itu berat. Dia belum ada sadar. Waktu itu mereka bersihkan rambut, di kepala ini benjol-benjol,” kata saksi.

 

Peristiwa Penembakan dan Penikaman di Depan Koramil

 

Karena tak jelasnya pelaku penganiayaan pada malam itu, warga di Pondok Natal Gunung Merah melakukan blokade jalan pada keesokan harinya, Senin, 8 Desember 2014. Menurut Pius Gobay, pihak kepolisian yang datang ke lokasi tidak dapat menjelaskan siapa pelaku penganiayaan.

 

Situasi di lokasi memburuk karena terdengar letusan tembakan dari arah bukit. Oleh sebab itu saksi mengaku mengamankan diri sedangkan massa yang berjumlah sekitar 100 orang menuju ke Lapangan Karel Gobay yang berjarak 2 kilometer dari Pondok Natal Gunung Merah.

 

“Wakil (bupati) pergi, saya juga turun ke rumah karena takut juga,” katanya.

 

Pius Gobay mengatakan dirinya tak ada di lokasi saat massa dari lapangan Karel Gobay menggeruduk Kantor Koramil Enarotali. Saksi juga mengaku tak ada di lokasi saat jatuh korban jiwa akibat penembakan dan penikaman oknum Koramil.

 

Dirinya baru mendengar informasi atau laporan soal korban jiwa dan luka tembak setelah insiden Paniai berdarah itu terjadi.

 

“Yang meninggal 4 orang. Luka-luka puluhan,” katanya.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *