JAKARTA – Harga minyak mentah mengalami penurunaan di tengah prospek dolar AS yang bergerak menguatkan terhadap resesi serta meningkatnya kasus covid-19 di Tiongkok.

Terpantau pada pukul 09.23 WIB harga minyak Brent turun sebesar 0,92 persen yang menempatkannya pada posisi US$93,42 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terlihat US$88,61 per barel atau turun sebesar 0,83 persen.

Tim Analis Monex Investindo Futures menyebutkan pada Rabu (12/10/2022) harga minyak diprediksi akan merosot.

Namun, jika bergerak naik hingga menembus ke atas level US$89.50 per barel, minyak berpeluang dibeli karena berpotensi naik lebih lanjut menargetkan resistance US$90.70 per barel

“Level support minyak mentah berada pada 87,50, 86,30, dan 85,00, sedangkan level resistance berada pada posisi 89,50, 90,70, dan 92m00,” jelas Tim Riset MIFX, dikutip Rabu (12/10/2022).

Sementara itu, mengenai ketidakstabilan harga minyak dunia, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani mengatakan tingkat kekhawatiran ekonomi global disebabkan oleh pembatasan nilai ekspor Rusia oleh Amerika Serikat saat ini.

Sri Mulyani mengatakan Indonesia merupakan satu-satunya negara pengekspor komoditas utama yang tidak ikut serta dalam upaya pembatasan harga AS. Upaya ini kemudian mengarah pada keputusan OPEC+ untuk membatasi produksi global.

“Perang tidak hanya perang militer tetapi sudah benar mengubah geopolitik, diplomasi, dan hubungan ekonomi antar negara,” ujar Sri Mulyani.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *