MALANG – Tongkat komando Polda Jatim resmi berpindah ke Irjen Toni Harmanto sejak Jumat (14/10) lalu.

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim KH Marzuki Mustamar pun turut memberikan pesan khusus kepada jenderal bintang dua kelahiran Jakarta, 5 Oktober 1965 tersebut.

“Soal pergantian kepemimpinan di Polda Jatim, kami sebagai pribadi dan juga sebagai NU mempersilakan dan mempercayakan kebijakan-kebijakan di Polri dan lembaga-lembaga negara lainnya, kami serahkan kepada mereka,’’ kata Kiai Marzuki, Selasa (14/10).

Dia meyakini Polri telah mengambil keputusan yang terbaik. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilurros, Gasek, Malang itu mengatakan, di NU ada banyak tokoh dan ulama, termasuk di Jatim.

KH Marzuki meyakini pasti ada satu atau dua kiai yang dimintai pendapat oleh Polri sebelum melakukan pergantian atau mutasi di jajarannya.

“Sehingga kami menerima dan mempercayakan urusan itu kepada masing-masing instansi. Kami belum tahu dan belum berdialog. Karenanya, belum tahu visi dan misinya,’’ papar Kiai Marzuki.

PWNU Jatim juga memberi imbauan khusus tentang Tragedi Kanjuruhan. “Kami pada prinsipnya sama dengan kalangan yang lain. Seperti sudah kami sebarkan lewat video itu, satu utamakan masalah kemanusiaan,’’ tegas Kiai Marzuki.

Dia juga berharap, siapapun untuk tidak memanaskan suasana dari pihak manapun. Beri kesempatan setenang-tenangnya bagi para tenaga kesehatan.

‘’Kami mohon ke Pemprov Jatim, ke bu Gubernur, sama ke Pemkot Malang dan Pemkab Malang, supaya itu segera didata, segera diberi ganti rugi,’’ pintanya.

“Mohon yang diberikan ganti rugi bukan hanya korban, bukan hanya yang sakit dan meninggal, tapi ini pedagang asongan juga diganti,” ungkapnya.

Masalah-masalah kemanusiaan seperti itu, lanjut Kiai Marzuki, mesti didata dan dituntaskan. Termasuk, misalnya, kalau korban meninggalkan yatim-piatu. Nah, anak bersangkutan itu mau dikemanakan. ‘’Kami di NU siap menerima. Menerima sekadar diamanati, lalu biaya full ditanggung pemerintah, kami siap,’’ ungkapnya.

Bahkan, Kiai Marzuki sendiri siap menerima. ‘’Mereka yang telah ditinggal meninggal, bapak dan ibunya menjadi korban, andai tidak ada subsidi atau backup dana dari manapun, pondok kami siap,” tegasnya.

Setelah masalah kemanusiaan dituntaskan, korban yang sakit sudah sembuh, para pedagang asongan sudah diberi ganti agar bisa berjualan lagi, anak-anak yatim sudah diberikan solusi, maka barulah penegakan hukum. “Saya ingin semua clear, biar nggak menyisakan masalah, yang itu menjadi dendam dan nggak habis-habis sampai kapanpun.” ujarnya.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *