Tulungagung – Panitia Muspimnas Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tulungagung buka suara terkait kericuhan kedua kalinya. Panitia menilai akar kericuhan bermula dari kongres pemilihan ketua.

Koordinator Acara Panitia Lokal Muspimnas PMII Mohammad Syafi’i mengatakan benih konflik tersebut telah ada sejak kegiatan Kongres PMII 2021 lalu di Balikpapan. Para kader yang diduga tidak sejalan dengan ketua terpilih akhirnya membawa konflik tersebut hingga ke arena muspimnas di Tulungagung.

“Sebenarnya dimulai dari konflik internal, mereka itu ke sini sudah membawa konflik internal,” kata Syafi’i, Senin (21/11/2022).

Kericuhan akibat konflik internal tersebut akhirnya dua kali pecah di arena Muspimnas PMII di Tulungagung. Kericuhan pertama terjadi pada pembukaan muspimnas, sejumlah peserta terlibat aksi saling lempar kursi, saat Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi hendak membacakan sambutan Presiden Jokowi.

Akibat kerusuhan itu sejumlah pejabat termasuk Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar sempat dievakuasi ke tempat yang aman. Kerusuhan tersebut akhirnya berhasil diredam aparat kepolisian dan pembukaan dilanjutkan hingga akhir.

“Bukan karena di sini, tapi memang konflik internal sudah terjadi sejak kongres dan berlarut-larut sampai sekarang,” imbuhnya.

Sementara itu konflik kedua pecah usai kegiatan rapat pleno pada Minggu malam. Puluhan kader yang disebut rombongan liar tersebut merangsek ke lokasi acara, hingga akhirnya terjadi kerusuhan yang berujung perusakan sejumlah fasilitas kampus.

“Yang terlibat konflik itu bukan peserta aktif atau peserta penunjukan, itu romli (rombongan liar) yang datang dari Indonesia Timur,” ujarnya.

Pada Minggu malam konflik bertambah memanas karena warga kampus dan massa pro muspimnas mengepung gedung. Puluhan aktivis yang diduga melakukan perusakan pun terjebak di dalam gedung Saifuddin Zuhri.

Untuk mengantisipasi kerusuhan yang lebih besar, aparat kepolisian turun langsung dan mengevakuasi 99 aktivis dari dalam gedung Saifuddin Zuhri dan dari luar gedung.

Kini puluhan aktivis tersebut diamankan di Polres Tulungagung. Polisi juga mengamankan sebilah senjata tajam jenis badik.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *