Surabaya – Tercatat angka kecelakaan lalu lintas akibat pelanggaran aturan di jalanan Kota Pahlawan kian meningkat. Peningkatan ini diduga terjadi karena turunnya kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas di tengah penerapan tilang elektronik atau ETLE dan peniadaan tilang manual.

Berdasarkan data Satlantas Polrestabes Surabaya jumlah kecelakaan pada November 2022 meningkat dibandingkan Oktober 2022 dan masih didominasi kecelakaan melibatkan pengendara sepeda motor.

Pada Oktober 2022 kecelakaan sepeda motor mencapai 159 kejadian, mobil penumpang sebanyak 34 kejadian. Angka ini meningkat pada November 2022 menjadi 188 kejadian kecelakaan sepeda motor dan 30 kejadian kecelakaan mobil penumpang. Jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas pada Oktober yang tercatat sebanyak 16 orang. Jumlah korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas pada November meningkat menjadi 20 orang.

Kasatlantas Polrestabes Surabaya Kompol Arif Fazlurrahman, rabu (7/12/2022) menjelaskan berdasarkan data Unit Laka Lantas pengendara berusia antara 20-40 tahun yang terlibat kecelakaan mengalami peningkatan. Selain itu, jumlah korban kecelakaan yang meninggal dan tidak memiliki surat ijin mengemudi (SIM) juga mengalami peningkatan.

Ia juga menyebutkan pergeseran lokasi kecelakaan lalu lintas di Kota Surabaya. Kalau sebelumnya lebih banyak berada di kawasan perbatasan seperti Dupak dan Demak, juga di kawasan Jalan Mastrip, sekarang sudah bergeser ke tengah kota.

Sementara sekarang ini, menengok data Unit Laka Lantas Polretabes Surabaya, kejadian kecelakaan justru mengalami peningkatan di tengah kota. Padahal sistem tilang elektronik atau ETLE sudah tersebar di berbagai jalan protokol.

“Ini semua, dari data kami, faktor utamanya adalah pelanggaran lalu lintas yang diindikasikan dengan turunnya kesadaran berlalu lintas (oleh) masyarakat,” kata Arif.

Pada akhirnya Arif mengakui bahwa tingkat kesadaran masyarakat dalam mematuhi peraturan lalu lintas memang menurun drastis. Kesannya, menurut dia, masyarakat cenderung menyepelekan aturan.

Ia juga menyebutkan bahwa pemikiran bahwa saat ini sudah tidak ada lagi petugas yang melakukan pengawasan di lapangan juga membuat masyarakat nekat menerobos lampu merah hingga terjadi kecelakaan fatal.

“Menerobos lampu merah, walaupun kosong dan tidak ada petugas, pengendara tidak melihat ternyata ada mobil akhirnya ketabrak dan meninggal. Begitu pun mobil yang melanggar. Dia tancap gas (ternyata) di sampingnya ada motor ditabrak. Ada juga yang tidak menyalakan lampu,” kata Arif.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *