Surabaya, – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Menparekraf RI), Sandiaga Salahuddin Uno merefleksikan posisi Indonesia di tahun 2045. Ia mengatakan, ekonomi Indonesia telah bergeser menjadi knowledge based economy. Salah satu ekonomi yang sedang leading adalah industri kreatif dimana Indonesia menempati nomor tiga di dunia.

“Ekonomi kreatif akan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perekonomian Indonesia pada tahun 2045 tembus lima besar ekonomi dunia. Prediksinya di posisi keempat. Walaupun tahun depan ada ancaman resesi, tapi kita semua yakin ekonomi Indonesia akan terus bertumbuh,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam
studium generale di Universitas Surabaya, Senin (19/12/2022), dengan tema “Menakar Indonesia ke Depan: Dinamika Kebangsaan yang Bhinneka, Teknologi, dan Geopolitik Dunia”.

Lebih lanjut Sandiaga juga mengatakan, saat ini masyarakat tengah memasuki era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Oleh karena itu, revolusi 4.0 dan society 5.0 mengharuskan seseorang memiliki learning and innovation skills yang tidak melupakan jati diri kebangsaan yaitu sikap gotong royong.

Generasi muda, lanjut Sandiaga, dapat menjadi agent of change dengan memiliki lima kriteria penting. Kriteria tersebut antara lain inovatif, adaptif, dan kolaboratif, berani ambil risiko, menjaga relasi, memiliki dan mengasah soft skill, serta mengenakan prinsip 4AS (kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas).

“Jadilah agen perubahan, bukan kaum rebahan. Mari kerjasama membangun Indonesia maju,” pesan Sandiaga di hadapan ratusan peserta.

Pada acara studium generale kali ini juga dilakukan launching buku karya Yuga Aden berjudul “1500 Inspirasi: Jelajah Perjalanan Sandiaga Uno”. Buku ini menceritakan perjalanan Sandiaga Uno yang berkeliling Indonesia untuk mendengarkan aspirasi, keresahan, dan optimisme dari masyarakat pada saat dirinya melakukan kampanye pilpres (pemilihan presiden) 2019.

“Banyak yang menceritakan kesuksesan, tapi buku ini bercerita tentang kegagalan. People learn from mistake. Buku ini menyiapkan kita ke kontestasi demokrasi dimana menciptakan demokrasi yang lebih sejuk, lebih teduh, lebih mempersatukan dengan konsep multikultur,” jelas Sandiaga.

Ia juga diberikan buku 30 tahun dan 50 tahun Ubaya oleh Ketua Yayasan Ubaya, Anton Prijatno, S.H. dan Benny Lianto. Sandiaga Uno mendapat buku 30 tahun dan 50 tahun Ubaya yang diberikan oleh Anton Prijatno dan Benny Lianto.

Selama kurang lebih satu tahun kedepan akan digelar forum serupa guna membahas tema besar ‘Menakar Indonesia ke Depan’. Di tiap bulannya, Ubaya akan mengundang tokoh nasional dan pejabat publik untuk mendiskusikan tema tersebut dari bidang dan sudut pandang pembicara. Materi-materi yang didiskusikan pada kegiatan ini akan didokumentasikan, salah satunya dalam bentuk buku.

Benny berharap, studium generale ini dapat menumbuhkan dan memantapkan nilai-nilai kebangsaan pada civitas akademika Ubaya dan masyarakat. Sehingga, dapat menempatkan diri secara benar dan tepat dalam menghadapi berbagai permasalahan kebangsaan yang ada.

“Selain itu juga mendapat gambaran yang holistik tentang perubahan geopolitik dunia yang terjadi saat ini dan dampaknya bagi indonesia di masa depan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *