Surabaya – Data kekerasan terhadap anak dan perempuan, termasuk trafficking sepanjang tahun 2022 di Surabaya meningkat dibandingkan tahun 2021.

Hal ini dikarenakan tingginya kesadaran masyarakat maupun korban kekerasan dan pelecehan yang berani melapor.

Berdasarkan data yang diterima, pada tahun 2021 tercatat ada ada 138 kasus terbagi KDRT ada 34 kasus, non KDRT ada 66 kasus, ABH ada 38 kasus dan trafficking nol. Sedangkan pada tahun 2022 meningkat menjadi 192 kasus terbagi KDRT ada 70 kasus, non KDRT ada 88 kasus, ABH ada 31 kasus dan trafficking ada 3 kasus.

Pada Kamis (5/1/2023) Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya, Tomi Ardiyanto mengatakan perempuan dan anak memiliki kelompok rentan dan harus dibekali dan diedukasi. Jika ada hal yang membuat terintimidasi dan dirugikan, mereka harus berani dan melaporkan kasus tersebut.

Ia berharap para korban kekerasan, pelecehan dan perundungan di Surabaya tak takut untuk melaporkan. Jika melapor atau healing trauma psikologis, pemkot sudah memfasilitasi itu dan menjamin privasi korban.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *