Jakarta, Nilai tukar rupiah kembali melesat pada pembukaan perdagangan Senin (16/1/2023) setelah menguat tajam sepanjang pekan lalu. Melansir data Refinitiv, rupiah langsung melesat 0,43% ke Rp 15.075/US$ begitu perdagangan dibuka. Penguatan rupiah kemudian bertambah hingga nyaris 1% ke Rp 15.000/US$.

Pelaku pasar hari ini menanti rilis data neraca perdagangan Indonesia. Surplus neraca perdagangan diperkirakan menyusut sangat dalam pada Desember 2022. Pelemahan ini sejalan dengan perlambatan ekonomi global.

 

Konsensus pasar dari 11 lembaga memperkirakan surplus neraca perdagangan pada Desember 2022 sebesar US$ 3,92 miliar. Surplus tersebut jauh lebih rendah dibandingkan November 2022 yang mencapai US$ 5,16 miliar.

 

Jika prakiraan tersebut menjadi kenyataan maka surplus pada Desember 2022 akan menjadi yang terendah sejak Mei 2022. Sebagai catatan, Indonesia melarang ekspor CPO pada bulan tersebut.

 

Konsensus juga menunjukkan bahwa ekspor akan tumbuh 6,6% (year on year/yoy) sementara impor ambruk 3,1%.

 

Jika neraca perdagangan kembali mencetak surplus maka Indonesia sudah membukukan surplus selama 32 bulan beruntun.

 

Sepanjang pekan lalu rupiah melesat lebih dari 3%. Penguatan mingguan tersebut juga menjadi yang terbesar sejak awal Juni 2020.

 

Penguatan tajam rupiah ditopang dari dalam dan luar negeri. Rupiah mendapat momentum penguatan setelah pemerintah mengumumkan akan merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2019 tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE). Dengan revisi tersebut DHE nantinya akan ditahan lebih lama di dalam negeri, sehingga pasokan dolar AS bisa bertambah.

 

Isu tirisnya pasokan dolar AS di dalam negeri terlihat dari necara perdagangan yang sudah mencatat surplus dalam 31 bulan beruntun, tetapi cadangan devisa malah terus menurun.

 

Kemudian, inflasi di Amerika Serikat yang terus menurun membuat penguatan rupiah semakin terakselerasi pekan lalu. Penurunan inflasi artinya bank sentral AS (The Fed) kemungkinan menurunkan lagi agresivitasnya dalam menaikkan suku bunga, bahkan ada peluang diturunkan sebelum 2024.

 

Hal tersebut membuat indeks dolar AS jeblok 1,6% ke 102,2 yang merupakan level terendah sejak Juni tahun lalu.

By rdks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *